Video Terkini

Polling Website

Apa Merk Laptop anda ?

Artikel Terakhir

Calendar

« Jun 2017 »
M S S R K J S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8

Statistik Website

mod_mod_visitcounterVisitors Online26
mod_mod_visitcounterHits1858609
mod_mod_visitcounterToday592
mod_mod_visitcounterYesterday2651
mod_mod_visitcounterThis week18144
mod_mod_visitcounterThis month60811
mod_mod_visitcounterAll days440896

Menkominfo Tampik Anaktirikan OpenBTS Ketimbang Balon Google

Menkominfo Tampik Anaktirikan OpenBTS Ketimbang Balon GoogleMenkominfo Tampik Anaktirikan OpenBTS Ketimbang Balon Google

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara tak mau menganaktirikan OpenBTS dengan Project Loon milik Google yang akan diuji coba teknis mulai 2016 bersama tiga operator seluler, yakni Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata.

"Saya sih oke-oke saja, nggak ada masalah. Semua akan saya akomodasi. Prinsipnya mau OpenBTS, mau balon Google, apa saja yang penting percepatan akses," kata menteri yang akrab disapa Chief RA ini saat berbincang dengan detikINET, Rabu (4/11/2015).

Ia pun mengaku akan membuka pintu lebar-lebar jika para pegiat OpenBTS seperti Onno W. Purbo maupun ICT Watch, mau mengajukan permohonan uji coba teknis seperti yang dilakukan Google bersama ketiga operator tersebut di frekuensi 900 MHz.

Tapi kata menteri, OpenBTS ini tergantung operator. Pasalnya, ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi jika solusi OpenBTS mau digunakan. Misalnya, model interkoneksi yang diterapkan.

"Karena, OpenBTS itu cuma menangkap dan menyalurkan sinyal saja. Sedangkan sinyal aslinya milik operator, tetap saja pakai jaringan operator. Nah, ini interkoneksinya bagaimana, kualitasnya siapa yang jamin," lanjut dia.

Rudiantara pun menekankan solusi OpenBTS itu juga mesti memperhatikan kualitas layanan mereka (QoS), baik suara, teks, maupun data. Selain itu juga tentang model revenue sharing antara operator dengan OpenBTS.

"Karena operator telekomunikasi kan ada standar kualitasnya. Mungkin nanti solusinya OpenBTS boleh, tapi harus ada dulu yang menjamin kualitasnya. Jadi, kalau cuma tes saja sih nggak masalah. Dengan Google pun baru technical test, belum ada model bisnisnya dan belum tahu bayarnya berapa," papar Chief RA.

Pernyataan menteri ini sekaligus untuk menjawab kritikan para pegiat teknologi seperti Onno W. Purbo dan ICT Watch yang menilai pemerintah lebih mendorong kerjasama dengan Google yang notabene milik asing, ketimbang mendorong solusi serupa yang ditawarkan anak bangsa.

"Open BTS kalau mau bikin pilot project silakan saja. Tinggal tentukan waktunya kapan, technical test-nya seperti apa, performance-nya seperti apa, dan lain sebagainya, walaupun nggak masuk komersil dulu. Google juga nggak ada komersilnya," pungkas menteri.

(rou/ash)

Berita Terkait : Berita Terkini