Video Terkini

Polling Website

Apa Merk Laptop anda ?

Artikel Terakhir

Calendar

« Jun 2017 »
M S S R K J S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1
2 3 4 5 6 7 8

Statistik Website

mod_mod_visitcounterVisitors Online26
mod_mod_visitcounterHits1858573
mod_mod_visitcounterToday588
mod_mod_visitcounterYesterday2651
mod_mod_visitcounterThis week18140
mod_mod_visitcounterThis month60807
mod_mod_visitcounterAll days440892

Ketika Orang Korea Enggan Pakai Produk Samsung

Ketika Orang Korea Enggan Pakai Produk SamsungKetika Orang Korea Enggan Pakai Produk Samsung

Selalu menarik membaca kisah soal kebangkitan, dari kemalangan menjadi keagungan, dari bukan siapa-siapa menjadi sukses luar biasa. Di taraf negara, contohnya ada beberapa. Salah satunya Negeri Ginseng, Korea Selatan.

Itulah yang dibahas dalam buku berjudul 'Korean Cool' ini, yang terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Bentang. Ditulis oleh wartawan bernama Euny Hong, Korean Cool menyoroti bagaimana Korea Selatan bangkit dari puing-puing perang menjadi negara maju yang kita lihat sekarang.

Memang yang jadi pokok bahasan adalah soal bagaimana proses budaya pop Korsel menjangkau dunia. Namun pada intinya, buku ini menceritakan kebangkitan Korsel secara keseluruhan.

Di bab awal, Euny mengisahkan betapa menyedihkan kondisi Korsel dahulu. Pada tahun 1965, penghasilan per kapita warga Korsel lebih kecil dari Ghana, bahkan dari negara serumpunnya, Korea Utara. Baru pada tahun 1970, pendapatan warga Korsel dan Korut hampir sama.

Untung saja, kondisi penuh derita tak membuat warga dan pemerintah Korsel putus asa. Mereka memutar otak agar negaranya bisa makmur, dalam waktu secepat mungkin. Berbagai strategi dicanangkan untuk meningkatkan perekonomian. Salah satu yang jadi fokus adalah menggalakkan industri hiburan.

Merebaknya budaya pop Korsel yang dikenal sebagai Hallyu atau Korean Wave ke seantero Asia, bahkan di berbagai belahan dunia, ternyata bukanlah kebetulan. Dalam buku ini dijelaskan secara gamblang bagaimana pemerintah Korsel mendukung penuh industri hiburan negerinya agar mendunia.

Ide untuk menggalakkan industri hiburan itu ternyata datang setelah Korsel dihantam krisis ekonomi tahun 1997. Tenggelam dalam utang dan memburuk citranya di mata dunia, pemerintah Korsel kemudian melirik industri hiburan yang dianggap potensial jadi sumber keuntungan baru.

Didukung Kementerian Kebudayaan dan investasi dana besar, Korean Wave akhirnya menyapu Asia. Grup musik, serial drama sampai film Korsel disukai di mana mana, mengalahkan Jepang yang dulu dominan. Buku ini menceritakan secara jelas dan menggelitik, kisah di balik kesuksesan Korean Wave.

Titik Balik Samsung

Selain soal kebangkitan budaya pop Korsel, buku setebal 284 halaman ini juga menyinggung kisah Samsung yang menginspirasi. Zaman dahulu, produk buatan Samsung ternyata dinilai murahan dan sangat rendah kualitasnya. Bahkan sampai sekitar tahun 1993, orang Korsel sendiri enggan memakai produk Samsung.

Titik balik Samsung adalah setelah Lee Kun Hee memegang jabatan chairman. Anak pendiri Samsung itu mengubah budaya Samsung dalam pidatonya yang dikenal sebagai Deklarasi Frankfurt 1993. Kalimatnya yang terkenal adalah, ubah semua hal kecuali istri dan anakmu.

Agar karyawan selalu ingat untuk membuat produk berkualitas, Lee pernah membakar ratusan ribu ponsel Samsung yang dianggap kurang baik. Kepemimpinannya yang keras itu membuat Samsung meraksasa, dan akhirnya menjadi salah satu vendor elektronik terbesar dunia.

Ya, semua target Samsung yang awalnya dianggap mustahil sudah terlampaui. Samsung dulu sebenarnya hanya ingin menyalip Sony, impian yang dianggap mengada ada mengingat kuatnya Sony kala itu. Namun bukan saja akhirnya berhasil mengalahkan Sony, Samsung kini jauh di atas produsen elektronik yang lain.

Selain Samsung, sisi teknologi lain yang dibahas dalam Korean Cool adalah mengguritanya bisnis video game Korsel. Padahal dulu, pemerintah Korsel sempat melarang video game karena dinilai merusak generasi muda. Namun kemudian, disadari bahwa industri game berpotensi besar dan akhirnya, Korsel menjadi salah satu produsen game online terkemuka.

Buku ini menarik, menginspirasi dan dituturkan dalam bahasa yang asyik. Bagaimana kebangkitan dramatis Korsel, negara kecil yang dulu sering jadi sasaran invasi negara lain, terjadi terutama karena tekad kuat pemerintahnya dan didukung kerja keras warga negaranya.

Bahwa sesuatu yang dianggap sebagai kemustahilan benar-benar bisa diwujudkan, dengan strategi yang tepat dan kepemimpinan yang baik. Korsel yang pernah hancur karena perang, begitu miskin sumber daya alam dan selalu terancam Korea Utara, ternyata bisa makmur dalam waktu lumayan singkat. Hebat, Korea! (fyk/ash)

Sumber : http://inet.detik.com/read/2016/05/31/161924/3222051/398/ketika-orang-korea-enggan-pakai-produk-samsung?i991101mainnews

Berita Terkait : Berita Terkini